Lelaki Sang Pengantar Surat Rasulullah SAW


Surat merupakan sebuah media komunikasi antara seseorang dengan orang lainnya yang berjauhan. Bila di zaman kini kebanyakan orang melupakan gaya berkomunikasi melalui surat, maka berbeda halnya dengan orang-orang terdahulu. Surat menyurat merupakan suatu hal yang sangat mengasyikkan.

Ternyata surat menyurat juga terjadi dimasa Rasulullah SAW.  Bahkan beliau  memiliki seorang pengantar surat. Yaitu seorang lelaki yang masih muda dan gagah berani. Ia juga merupakan seorang prajurit yang tangguh
.
Lelaki Sang Pengantar Surat Rasulullah SAW

Ia dipilih karena sosoknya yang amanah. Sebab surat yang diantarkannya tersebut bukanlah surat biasa melainkan sebuah surat yang sangat penting. Dan karena surat ini pula lah ia kehilangan nyawanya. Surat apakah yang dimaksud ? Dan siapakah lelaki sang pengantar surat Rasulullah SAW tersebut ?

Adalah Habib bin Zaid, seorang pemuda tangguh yang gagah berani. Ia dibesarkan dalam sebuah rumah yang penuh keharuman iman disetiap sudutnya di lingkungan keluarga yang melambangkan pengorbanan. 

Ayahnya bernama Zaid bin Ashim, merupakan salah seorang dari rombongan Yastrib yang pertama masuk Islam.  Sedangkan ibunya, Ummu Amarah Nasibah Al-Maziniyah merupakan wanita pertama yang memanggul senjata untuk mempertahakan agama Allah dan membela Rasulullah. 

Sementara saudaranya yaituAbdullah bin Zaid merupaka pemuda yang rela mempertaruhkan lehernya sebagai tebusan dalam perang Uhud untuk melindungi Rasulullah SAW. Sehingga tidak mengherankan bila Rasulullah pun berdoa agar keluarga tersebut dilimpahkan Allah SWT berkah dan rahmat-Nya.

Sedari kecil cahaya iman telah menyinari hati Habib bin Zaid. Saat perang Badar dan Uhud berkoar, ia tidak diperbolehkan untuk ikut berperang sebab usianya yang masih belum layak. Ketika usianya cukup, ia tidak pernah sekalipun absen dalam setiap peperangan membela agama Allah. Habib bin Zaid menjadi seorang prajurit yang tangguh, pembawa bendera dan panji-panji Islam yang gagah berani.

Karena sosoknya yang amanah dalam setiap tugas yang diembannya, maka Rasulullah SAW pun menunjuknya sebagai pembawa surat. Ketika itu, Rasulullah SAW mendapatkan sebuah surat dari Musailamah al-Kadzab yaitu seseorang yang mengaku-ngaku dirinya adalah seorang nabi utusan Allah SWT. 

Pada saat itu Musailamah menyatakan bahwa Allah SWT mengutusnya menjadi Nabi untuk Bani Hanifah, sebagaiman Allah SWT mengutus Muhammad bin Abdullah untuk kaum Quraisy.  Ketika pengikutnya telah bertambah banyak, Musailamah mengirim surat kepada Rasulullah. Dan beliau pun membalas surat Musailamah tersebut.

Namun, surat balasan dari Rasulullah SAW ini tidak ditanggapi oleh Musaiamah, ia justru bertambah jahat dan semakin meluas. Mendapati hal tersebut, maka Rasulullah SAW pun mengutus Habib bin Zaid untuk mengantarkan sebuah surat kepada Musailamah. Sebuah surat yang berisi peringatan agar Musailamah menghentikan segala kegiatannnya yang menyesatkan itu. 

Meskipun perjalanan mengantarkan surat tersebut sangat tidak mudah dan penuh rintangan, namun hal itu tidak menyurutkan langkah Habib bin Zaid. Hingga akhirnya Musailamah pun menerima dan membaca surat tersebut. Ia menjadi sangat marah dan melampiaskan kemarahannya tersebut kepada si pengantar surat. 

Ketika itu tentara Musailamah mengikat Habib dan menyiksanya serta memaksanya agar mengakui kenabian Musailamah. Namun dengan tegas, Habib mengingkari hal tersebut. Sehingga musailamah pun semakin marah, dan ia memerintahkan agar Habib bin Zaid diseret dan dibawa masuk ke dalam majelis. 
Di hadapan para pengikutnya ia memaksa Habib agar mengakui kenabiannya, namun hal itu diingkari oleh Habib. Sebab ia hanya mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah. Sehingga Musailamah menyuruh algojonya memotong bagian tubuh Habib dan potongan tubuhnya jatuh di dekat Habib. 

Musailamah terus bertanya, dan algojo terus juga memotong-motong tubuh berkali-kali sesuai perintah Musailamah. Walaupun begitu, bibir Habib tetap berujar,”Aku mengakui sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah!”

Separuh tubuh Habib telah terpotong-potong dan potongannya berserakan di tanah. Separuhnya lagi bagaikan onggokan daging yang bicara. Akhirnya jiwa Habib melayang menemui Allah. Kedua bibirnya senantiasa mengucapkan bahwa ia hanya mengakui Muhammad SAW—yang telah ia baiat pada malam Aqabah—sebagai Rasulullah.

Musailamah menyiksa Habib hingga utusan Rasulullah tersebut menjemput syahidnya. Habib rela disiksa dan dibunuh demi membela Rasulullah, orang yang paling dicintainya melebihi cintanya kepada orangtuanya.
Tag : Dunia Islam
0 Komentar untuk "Lelaki Sang Pengantar Surat Rasulullah SAW"

Back To Top